“Bulan Juli kembali. Batas antara bertambah dan berkurangnya masa kehidupanku dimulai dari sini, dari bulan Juli. Sebab itu aku menyukainya sebagai penyekat sebuah halaman lama dengan yang baru.” Ia menutup buku catatannya setelah mengingatkan pada diri sendiri bahwa bulan kelahirannya telah tiba.
Hujan membubarkan barisan mahasiswa baru yang sedang dijemur di sebuah lapangan hampir seharian dengan kostum rompi dari karung gandum lengkap dengan topi dari bola yang dibelah dua dan kalung papan nama dari kertas karton dan tali rafia yang di rumbai. Ya, memang beberapa menit yang lalu terik matahari masih membakar kulit mereka, tetapi tiba-tiba saja mendung datang disusul hujan turun sangat deras tanpa memberi aba-aba sedikit pun sebelumnya. Seketika mereka berhamburan lari kocar-kacir menuju gedung kampus menyelamatkan diri dan atribut yang mereka kenakan dari hujan yang telah membasahi tubuh mereka dalam sekejap. Keadaan menegangkan dari seorang senior yang sedang memberi arahan orientasi dengan suara lantang dan tegas berubah menjadi riuh teriakan: Hujan… Hujan… Lari…
Walau begitu, tidak dengan sang senior yang berjalan santai sambil menutup kepalanya dengan jas almamater kebanggaan berwarna biru langit. “Dari tadi pagi panas, hujan memang suka mempermainkanku, tapi, tetap saja aku menyukainya.” Katanya pada diri sendiri. Ia berjalan dengan santai menikmati hujan sambil menghirup aroma tanah basah favoritnya yang baru saja berhembus. Celananya sudah basah sampai ke dalam, begitu juga dengan jas almamater yang tak bisa benar-benar meneduhkan kepalanya. Rambut lurus belah tengahnya juga sudah lepek seakan air baru saja disiramkan tepat di atas kepalanya. Namun tetap saja, ia tak memedulikan hal itu hanya karena ia menyukai hujan. Pemuda dengan tinggi badan seratus tujuh puluh lima sentimeter tersebut berjalan berlawanan arah dengan para mahasiswa baru berlarian digiring hujan. Daripada menuju gedung kampus berdesakan dengan orang-orang, ia memilih pergi berteduh di sebuah gazebo tempat favoritnya untuk menyendiri di ujung lapangan. Setelah mengibas-ngibaskan jas almamater dan membentangkannya di sebuah sandaran kursi, membetulkan rambutnya dan meletakkan tasnya di meja, ia melihat ke arah pohon besar di samping gazebo melempar senyumannya. “Sudah bulan Juli bukan? Mengapa masih hujan? Apa kau suka?” Ujarnya pada pohon flamboyan yang sudah hidup puluhan tahun di sana namun hampir saja kekeringan semenjak beberapa minggu lalu disengat terik matahari. Segera ia kembali ke meja lalu mengeluarkan bukunya yang sebagian sudah basah oleh air hujan yang merembes ke dalam tas. Menarik kursi, mengambil pena dan duduk seorang diri.
“Hujan membuat gaduh telingaku, namun aku tetap menyukainya. Sendiri membuat sunyi isi kepalaku, namun aku tak pernah menginginkannya. Dapatkah kau berteman denganku lebih lama? Aku butuh keseimbangan untuk terus hidup di antara kegaduhan dan kesunyian yang membuatku hampir gila.” Tulisnya di buku catatan tebal setengah penuh yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
Sudah hampir dua jam hujan tak kunjung reda. Bayung masih duduk di tempat yang sama dengan goresan pena yang terus memenuhi setiap halaman di bukunya. Iya, namanya Lembayung, ia akrab disapa Bayung oleh teman-teman dekatnya. Seorang mahasiswa semester lima yang sedang sibuk mengurusi penerimaan mahasiswa baru karena ia telah ditunjuk sebagai penanggung jawab orientasi mahasiswa baru untuk Jurusan Teknik Mesin dikarenakan paling aktif dalam mengikuti organisasi mahasiswa. Walaupun aktif berorganisasi, Bayung tetap berprestasi di bidang akademik. Indeks prestasinya tak pernah kurang dari tiga koma lima. Karya tulisnya selalu diterbitkan di majalah dinding kampus, terbit di koran dan majalah remaja, juga sering ia kirimkan ke radio. Beberapa kali memenangkan lomba karya tulis memberi nilai tambah baginya untuk mendapat julukan pria paling sempurna di kampusnya. Bahkan dari semua angkatan pada saat itu. semua telah mengakui ketampanan seorang Bayung kecuali satu orang, dirinya sendiri. Bahkan ia begitu berat hati untuk bercermin dan melihat wajahnya sendiri karena takut muncul rasa sombong pada dirinya. Begitu ia sering bergurau dengan teman-temannya.
Hari sudah makin sore, hujan menyisakan gerimis yang tak membuat basah seseorang yang melintas melewatinya. Bayung mulai tersadar dari konsentrasi menulisnya karena tak mendengar lagi dera suara hujan, ia bergegas memasukkan buku dan beranjak dari gazebo. Sekali lagi ia memandang ke atas, ke arah pohon flamboyan besar yang telah kenyang menyerap begitu banyak air hujan setelah berminggu-minggu dahaga. “Kau harus tetap hidup di sana, untuk melindungi kami dari kepanasan saat jam olahraga siang bolong. Paling tidak, sampai aku lulus.” Ujarnya pada pohon itu dengan senyuman tipis dari bibirnya. Setelah melewati rimbunnya daun-daun, Bayung kembali menegakkan kepala, gerimis kecil masih menetes di wajah tampannya. “Masih gerimis, tak ada senja lagi hari ini.” Mata kanannya mengerit menghalau tetesan air hujan.
Bayung berjalan di tengah lorong ruang kelas menuju ruang KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Salah satu organisasi besar di kampusnya yang menjadi wadah bagi para penulis untuk menerbitkan karya tulisnya di majalah dinding atau yang familier dengan sebutan mading. Ia datang untuk menemui seseorang. Sebenarnya untuk menyerahkan tulisannya sebagai bahan mading yang sudah ia kerjakan selama hujan turun. Sampailah di depan mading kampus yang terdiri dari tiga buah papan panjang berisi penuh mengenai informasi perkuliahan, promosi kegiatan kampus, juga karya-karya sastra mahasiswa seperti cerpen, anekdot, pantun, puisi, cerbung dan lain-lain. Ia menghentikan langkahnya sebentar lalu melirik ke arah tulisan-tulisannya sebelum liburan semester yang masih menempel di sana. “Masih sama.” Katanya pada diri sendiri. Setelah itu segera membuka pintu lalu mengambil buku dari dalam tasnya dan menyobek beberapa halaman yang akan ia serahkan.
“Ini bahan mading untuk minggu depan dariku.” Bayung menyodorkan beberapa lembar kertas pada seorang gadis.
“Basi. kita butuh sesuatu yang baru.” Jawab seorang gadis yang sudah tinggal dalam organisasi ini selama ia kuliah. Semua orang juga mengenal gadis yang biasa disapa YK itu. Nama aslinya Yulia Kurniasih, ia sendiri yang membuat akronim namanya menjadi YK. Mahasiswa yang juga semester lima Jurusan Seni dan Budaya tersebut bisa dibilang satu yang paling dekat dengan Bayung karena keduanya memiliki hobi yang sama yaitu menulis puisi, cerpen, kata-kata mutiara, dan karya sastra lainnya untuk diterbitkan. Memang dandanannya sangat tomboi dengan rambut pendek, celana cutbrai dan kemeja kotak-kotak yang menjadi ciri khasnya membuat orang tak ada yang percaya bahwa YK sangat piawai menulis sajak, melukis, bermain alat musik, bahkan kadang-kadang nembang lagu Jawa juga bermain seni peran di kampusnya atau acara kesenian kota.
“Sesuatu yang baru bagaimana maksud kamu?” Tanya Bayung pada YK begitu dingin. Dahinya mengerut membuat tatapan sinis tidak suka dengan kata-kata YK yang mengatakan tulisannya basi.
“Sudah beberapa minggu tulisan kamu selalu tentang patah hati, terluka, sakit, dan semacamnya. Kita butuh sesuatu yang membuat pembaca semangat. Sekarang sudah masuk awal semester baru semua orang sedang butuh motivasi dan penyemangat untuk menjalani hal-hal baru, Yung.” YK membalas perkataan Bayung dengan suara keras ciri khasnya. “Semua orang tahu kamu sedang patah hati Yung. Tapi tidak semua orang ingin membaca puisi atau cerita yang menyedihkan setiap minggu.” Ia melanjutkan ceramahnya, beranjak dari tempat duduk kemudian mengambil kertas-kertas milik Bayung yang berisi puisi patah hati dan menunjukkan lagi pada bayung. “Ini, semua menyedihkan… Untuk sementara waktu, Aku akan menerbitkan tulisan-tulisan dari seorang pendengar radio, dia begitu sering mengirim tulisannya sampai aku bingung yang mana lagi yang harus aku baca. Dan juga tulisannya banyak memberi motivasi tentang kehidupan. Sajak-sajaknya indah. Setelah emosi kamu kembali. Kita akan terbitkan tulisan kamu lagi sambil menunggu yang lain bergabung.” YK terus bicara pada Bayung. Sementara Bayung bisa memaklumi semua perkataan YK karena memang emosinya sedang tidak bagus setelah genap satu bulan ia dicampakkan seorang gadis paling cantik di kampus yang bernama Bintang, mahasiswi Jurusan Psikologi di kampus dan semester yang sama dengan mereka.
“Ya sudah.” Kata Bayung singkat tak ada perlawanan, untuk memecah keheningan dan menangkan suasana setelah YK berbicara lantang dan panjang sebelumnya.
Hari sudah mulai gelap, tak terdengar suara apa pun lagi kecuali tetesan sisa-sisa hujan dari ujung genting jatuh di atas genangan air di tanah. Suasana sedikit mencekam karena sepertinya tinggal mereka berdua saja di sana. Mereka segera mengunci ruangan KIR dan berjalan bersama menuju parkir sepeda motor untuk pulang.
“Aku ikut pulang sama kamu ya, mau ke studio dulu ada siaran”. Kata YK pada Bayung. YK memang seorang penyiar radio yang sudah cukup terkenal bahkan satu karesidenan Semarang. Ia memang harus bekerja sendiri untuk membayar kuliah karena kedua orang tuanya meninggal sudah sangat lama. Bahkan YK tak pernah bertemu dengan ayahnya sekalipun.
“Ya! Ayo.” Jawab Bayung seperti biasanya.
“Sangat aneh. Sudah bulan Juli tetapi jarang sekali senja terlihat. Setiap sore selalu mendung bahkan hujan sangat lebat.” Gumam Bayung lirih sambil mengelap jok sepeda motor dengan kanebo kemudian memakai helmnya. YK menatap wajahnya yang terlihat seperti orang gila karena suka bicara sendiri.
“Jangan suka bicara sendiri, di kampus ini banyak hantu.” Gurauan YK pada Bayung. Terlihat dua orang dengan kepribadian yang sangat bertentangan bisa menjadi teman dekat. Bahkan Bayung menganggap YK seperti kakaknya sendiri karena memang umur mereka terpaut dua tahun lebih tua YK daripada Bayung.
Hari Senin pertama awal perkuliahan. Bangunan Gedung kampus terlihat semu memudar terselimuti kabut tipis pagi hari yang belum terusik oleh sinar matahari. Belum terlihat satu pun mahasiswa datang ke kampus, hanya ada beberapa tukang sampah sibuk memindahkan sampah dari ember ke gerobak dan beberapa staff kantin dengan belanjaannya yang penuh ditumpuk di atas sepeda motor. Tetapi YK sudah di sana sepagi itu dengan gaya berpakaian sangat tomboi andalannya, ia sedang melepas satu per satu informasi di mading yang sudah melewati batas waktu terbit dan menggantinya dengan yang baru. Lagi pula, hari ini hari pertama mahasiswa baru melakukan perkuliahan, ia ingin mengambil hati para junior untuk bergabung dengan organisasinya. “Hm hm hm hm.” Mulutnya menirukan suatu nada lagu tetapi tanpa lirik.
“Ka, butuh bantuan?” Bayung mengagetkan YK yang begitu menikmati rutinitas paginya.
“Astaga!” YK menoleh, hampir saja ia memukul Bayung dengan kayu pengunci kaca mading.
“Tumben Yung, sepagi ini sudah di kampus, orientasi kan sudah selesai?” Tanya YK pada Bayung setelah kembali mengambil kertas untuk dipasang di mading. Bayung diam tak menjawab pertanyaan YK, matanya dengan jeli melihat satu per satu tulisan-tulisan baru yang dipasang YK di mading.
Bait-bait syair kehilangan irama adalah puisi,
Atau hanya ungkapan pesan yang terangkai dan tersirat di atas secarik daun kering.
Aku mulai menyukainya lebih dulu sebelum kau datang,
dan tetap menyukainya setelah kau pergi, bahkan hingga kini.
Aku melayangkan puisi tanpa angin, meneteskan tanpa gerimis,
dan mengharumkan tanpa bunga.
Kekasih dari sang penyair adalah puisi,
Atau hanya ungkapan isi hati yang tersusun dari kata yang membentuk syair.
Puisi/Oleh: Senja
“Siapa Senja?” Tanya Bayung pada YK setelah melihat puisi baru yang dimuat paling atas mading bagian karya tulis. Namanya terdengar asing, tak pernah ada yang menggunakan nama Senja di kampus. YK masih sibuk menyusun informasi untuk dipajang di madingnya. “Ka, siapa Senja?” Bayung mengulangi pertanyaannya dengan meninggikan suaranya.
“Oh, itu kiriman dari pendengar radio yang aku katakan minggu lalu, bagus kan?” Jawabnya tanpa menjelaskan kembali pada Bayung bahwa tulisan Bayung tidak akan dimuat untuk sementara waktu.
“Hanya satu?” Tanya Bayung lagi dengan harapan tulisannya akan mengisi halaman kosong di mading.
“Itu masih ada, belum selesai ditempel.” Jawaban YK sedikit membuat Bayung kecewa karena tulisannya tergantikan oleh orang lain.
“Oh, baiklah. Berikan padaku, aku akan membantumu.” Bayung mengambil kertas-kertas berisi karya tulis yang dikirim seorang pendengar radio, tulisan tangannya sangat jelas terbaca, hampir sama dengan mesin tik. Ada beberapa kata mutiara dan satu anekdot dari tumpukan lembaran yang diambil Bayung. “Dia seorang gadis, Ka?” Tak sadar Bayung bertanya pada YK perihal nama pena yang tertulis “Senja.”
“Aku tidak tahu, itu kan hanya kiriman pendengar radio, aku juga belum pernah bertemu orangnya kan? Sudah kerjakan saja, aku harus ke ruang administrasi, ada urusan yang harus diselesaikan.” Jawab YK hampir selesai melakukan pekerjaannya.
“Bayung.” Seorang gadis berparas menawan rambut lurus panjang sepinggang mengagetkan Bayung dari arah sebaliknya. Berdiri tegak dengan sepatu hak tinggi dan tas pinggang cukup besar mengilat, beberapa buku ia peluk dengan tangan kanannya karena tak bisa masuk ke dalam tas.
“Bintang?” Jawab Bayung menoleh, seketika gugup dan salah tingkah ketika tahu mantan kekasihnya menghampiri dirinya sepagi itu, di depan mading pula. Bayung lekas meletakkan lembaran yang belum selesai ia tempel dan segera menarik tangan Bintang tanpa aba-aba, ia ingin berbicara empat mata tanpa didengar oleh YK.
“Eh Yung!!” Teriak YK kesal karena meninggalkannya begitu saja.
“Lepas Yung.” Bintang menarik tangannya setelah diseret beberapa meter dari mading oleh Bayung.
“Kita bicara di gazebo saja. Aku tunggu di sana.” Tutur Bayung gugup, ia segera bergegas menuju gazebo favoritnya dengan kaki gemetar, disusul Bintang sepuluh meter di belakang Bayung sengaja berjalan lebih pelan agar tidak berdampingan dengan Bayung.
“Aku bukan kekasihnya lagi.” Dalam hati Bintang tak ingin terlihat berdua dengan Bayung.
“Bintang, apa kabar? Bagaimana liburannya?” Tanya Bayung masih terbata-bata dan gugup. Padahal ia memiliki waktu beberapa detik untuk menyiapkan diri bicara dengan Bintang. Hanya matanya tajam tak berkedip menatap paras cantik yang pernah berbagi suka duka dengannya, ia masih tak menyangka hubungan mereka akan berakhir, atau bahkan sudah berakhir.
“Baik Yung, aku hanya ingin mengembalikan jaket kamu saja.” Jawab Bintang mengambil jaket milik Bayung dari dalam tasnya. Bayung masih belum berkedip menatap Bintang, entah terluka atau bahagia yang ia rasa bisa melihat mantan kekasihnya lagi. Bintang segera meraih tangan Bayung kemudian meletakkan jaket di tangannya karena Bayung tak memberi tanggapan apapun.
“Aku harap kita masih berteman baik ya, Yung. Kalau butuh bantuan, kamu bisa kirim surat atau telepon ke rumah.” Kata Bintang sekali lagi benar-benar ingin berpisah dengan Bayung.
“Oh iya, terima kasih banyak, Bin.” Jawab Bayung mengambil jaketnya dengan kedua tangan, ia tak bisa lagi berkata-kata atau bahkan bernegosiasi perihal hubungan mereka. Luka di hatinya telah membungkam mulutnya untuk bicara.
“Aku pergi dulu.” Bintang segera meninggalkan gazebo, ia mempercepat langkahnya tak ingin berlama-lama berdua di sana. Tinggallah Bayung seorang diri di dalam gazebo. Hatinya yang mulai sembuh dari luka kembali hancur, ia mendekap jaketnya, lalu mencium berkali-kali. Aromanya sama persis seperti parfum yang dikenakan Bintang. Wangi bunga mawar segar tidak terlalu tajam. Bayung dan Bintang berpacaran sejak semester tiga, kurang lebih satu tahun yang lalu karena perjodohan dari klub penggemar Bayung dan Bintang yang merasa mereka berdua sangat serasi bak pangeran dan permaisuri dalam dongeng. Karena terus didesak, akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan, tetapi Bintang yang tidak bisa benar-benar bisa mencintai Bayung pada akhirnya memilih berpisah. “Cinta benar-benar tak pernah memandang fisik, aku sama sekali tak bisa mencintai pemuda setampan dia.” Kata Bintang berusaha mencintai dan bisa mengerti Bayung. Berbeda dengan Bayung yang merasa nyaman bersama Bintang karena cantik dan cerdas, juga wangi.
“Untung aku belum benar-benar mencintainya, tapi sayang sekali dia sangat cantik dan cerdas.” Kata Bayung melapangkan dirinya sendiri masih di gazebo favoritnya di hari yang masih pagi dan sunyi dihiasi kicauan merdu burung gereja yang bersangkar di pohon flamboyan sebelahnya, mereka terbang ke sana kemari menari-nari merayakan Bayung yang sedang dicampakkan. Sekali lagi ia mencium jaketnya sebelum aroma parfum Bintang hilang. “Kau melihat aku dicampakkan?” Matanya melirik ke atas, ia sedang bicara pada pohon yang sama. Pohon itu meneteskan beberapa tetes embun dari daun-daunnya ke tanah, sesekali menetes di pipi Bayung yang kepalanya masih menonggak ke atas. Bayung mengusapnya segera lalu bergegas pergi kembali untuk membantu YK.
“Sudah selesai.” YK menampakkan wajah ketus pada Bayung. “Sudah kau selesaikan urusanmu dengan Bintang?” Tanya YK pada Bayung sebagai bentuk perhatiannya. Bayung membungkukkan badan dan meletakkan kedua tangan di kedua lututnya. Mengatur nafas gelagapan setelah berlari dari gazebo.
“Sudah Ka.” Jawab Bayung menarik nafas panjang tak bisa banyak berkata.
“Ya sudah, bagus. Semoga lekas membaik.” Kata YK meninggalkan Bayung di depan mading seorang diri. “Oh, iya, nanti sore aku pulang bersamamu, ya!” Teriaknya setelah beberapa langkah menjauh dari mading.
Sementara Bayung mulai menegakkan berdirinya, membaca ulang karya tulis dari Senja yang sudah terpajang rapi di mading. Jari telunjuknya mendikte perlahan kata demi kata. “Tulisannya bagus.” Bayung memujinya dalam hati. “Sajak-sajaknya juga bagus.” Ujarnya sekali lagi. “Siapa Senja?” Tanya Bayung pada diri sendiri. keringatnya masih menetes, ia segera mengusapnya dengan jaket yang baru saja Bintang kembalikan. “Keringatku menghapus aroma parfum Bintang.” Dalam hati sedikit menyesal.
Masih di hari yang sama, namun sudah menuju sore. Bayung telah selesai menjalani perkuliahan hari pertamanya di semester lima dengan hati yang patah. Walau begitu semangat belajarnya belum ada yang menandingi di kelasnya. Matahari kian bergeser ke arah barat. Banyak wajah baru terlihat berlalu-lalang di depan kampus. Beberapa kali Bayung melihat jam tangannya, sudah pukul lima belas pas. Ia sudah duduk di atas sepeda motor dengan helm terpasang lebih dari dua puluh menit yang lalu. Kedua kakinya semakin pegal menahan beban dirinya dan sepeda motor yang cukup berat. Dalam hatinya berniat akan meninggalkan YK, tetapi ia ragu, YK akan marah habis-habisan besok pagi. Di tengah keraguannya, terlihat YK berlari kencang melebihi seorang pelari maraton dari dalam kampus.
“Bayuuuung, maaf.” Teriaknya dari jarak lima meter tepat di depan gerbang kampus. “Maaf, tadi aku mencarimu di parkiran, ternyata kamu sudah ada di sini.” Katanya setelah berdiri tepat di samping sepeda motor Bayung dengan nafas terengah-engah hampir habis, keringat mengucur melebihi atlet olahraga yang sedang bertanding.
“Ya sudah, ayo!” Bayung memang tak pernah marah pada siapa pun, apalagi pada YK yang katanya perempuan paling galak di kampus mereka. YK segera naik ke jok belakang sepeda motor Bayung, memasang helm, dan meletakkan kedua tangannya di pinggang Bayung.
“Yung. Hari ini ada acara tidak?” Teriak YK dari belakang.
“Hah?” Bayung tidak mendengar suara YK dengan jelas karena bising juga telinganya tertutup helm.
“Hari ini ada acara tidak?” YK mengulangi lagi dengan suara lebih keras, mendekatkan mulutnya ke telinga Bayung.
“Tidak ada, kenapa? Teriak Bayung kembali bertanya dengan sedikit menoleh.
“Ayo temani aku siaran. Tapi kita ke rumahku dulu.” Teriak YK lagi mengajak Bayung.
“Baik.” Jawab Bayung tak ingin banyak bicara karena harus berteriak membuang-buang energi.
Hanya lima belas menit dari kampus, melewati jalanan besar kota Semarang yang diiringi pepohonan di kanan dan kiri jalan dengan pemandangan becak berbaris rapi menunggu penumpang, kemudian masuk ke gang, dan gang yang lebih kecil lagi sebanyak dua kali, setelah itu sampailah di rumah kontrakan YK. Sepeda motor Bayung berhenti tepat di depan kedai es cokelat milik YK.
“Ayo turun dulu.” Kata YK sudah turun terlebih dahulu berlari kecil segera masuk ke dalam kontrakannya untuk ganti baju. Disusul Bayung setelah ia melepas helmnya.
“Minum es dulu mas.” Seorang gadis masih sangat muda menawarkan es cokelat pada Bayung dari dalam kedai sederhana berukuran tiga kali tiga meter dengan kain besar yang tertulis “Es Cokelat Yoiki” dibuat sendiri oleh YK yang di ikat dari ujung kanan ke ujung kiri kedai.
“Iya Put, tidak perlu repot-repot.” Jawab Bayung sudah mengenal Putri karena sering mengantar YK pulang. Sementara YK masih di dalam kontrakan yang berbentuk petakan dan hanya berukuran tiga kali lima meter berjajar lebih dari enam buah dengan tetangga-tetangga yang juga tinggal di sana. Mereka juga berbagi beberapa kamar mandi dan kakus yang berada di pojok. Terlihat banyak barang-barang rumah tangga bertumpuk hampir menutupi wajah rumah kontrakan, beberapa gerobak mi tek-tek dan tahu gimbal juga di parkir di depannya. YK, Putri dan Ibunya tinggal bersama di sana. Putri dan ibunya pergi dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan ayahnya yang seorang pelaku kekerasan juga pemabuk. Setelah bertemu melalui seorang teman relawan, YK menawarkan Putri yang kala itu masih duduk di bangku kelas tiga SMP dan ibunya untuk tinggal bersama di sana. Tak ada pilihan lain, Putri menyetujui tawaran YK. Tak ingin membebankan hidup YK yang hanya seorang penyiar radio dengan upahnya yang tidak seberapa, bahkan kurang untuk memenuhi hidupnya sendiri, Putri dan ibunya membangun kedai di depan rumah kontrakan YK persis dari sisa uang yang mereka bawa dan di tambah dengan uang tabungan YK yang tak seberapa. Mereka telah sepakat untuk hidup bersama-sama menjadi satu keluarga. YK pun merasa diuntungkan karena ia memiliki ibu dan adik mulai saat itu.
Setelah selesai bersiap-siap, YK masuk ke dalam kedai untuk mengontrol kedainya sebentar, ia hanya melihat persediaan bahan, dan lain-lain.
“Bagaimana Put hari ini, aman?” Tanya YK membuka laci yang berisi uang.
“Alhamdulillah Bude.” Jawab Putri, begitu ia memanggil YK sejak awal mereka bertemu.
“Ya sudah aku berangkat dulu ya Bu, Put.” Pamit YK pada Putri dan ibunya yang sedang menunggu kedai mereka. Rambut basahnya disisir rapi ke belakang dengan setelan kemeja flanel dan celana jin, aromanya masih segar sabun mandi tanpa parfum, orang yang tidak mengenalnya akan menyangka ia adalah seorang laki-laki jika dilihat dari penampilannya yang hampir bersaing dengan Bayung.
“Mari Bu, Put.” Disusul Bayung juga berpamitan dengan santun. Mereka segera bergegas menuju Garuda FM. Saluran radio paling terkenal dan sangat digemari anak muda kala itu, salah satu acaranya berjudul “Coretan” yang dibawakan oleh YK dan teman-temannya. Jaraknya hanya tiga belas menit dari rumah kontrakan YK, ada di tengah-tengah antara kampus dan kontrakannya. “Ka, kenapa kamu mengajakku siaran? Tumben.” Teriak Bayung membuka kaca helmnya.
“Iya, temanku hari ini izin, kamu nanti duduk saja di luar studio, lihat-lihat tumpukan surat dari pendengar sekalian bantu aku membuka satu per satu.” Jawab YK berteriak takut tak terdengar oleh Bayung. Tak lama mereka pun sampai di gedung radio tempat YK siaran.
“Ayo, masuk saja.” Kata YK pada Bayung masih berdiri di samping sepeda motornya, ia segera meletakkan helm dan mengikuti YK dari belakang.
“Memangnya tidak ada orang Ka? Kamu berani membawa orang asing masuk?” Ujar Bayung melihat ke sana dan kemari sedikit mencemaskan keadaan.
“Kalau siaran pagi biasanya ramai. Kalau sore cuma ada penyiar yang ditemani oleh pak satpam saja.” YK terus berjalan menuju studio kesayangannya di lantai dua diikuti oleh Bayung.
“Siarannya jam empat, aku akan bersiap-siap terlebih dulu. Ini surat-surat yang dikirim pendengar, minta tolong dibuka satu per satu. Kemudian pisahkan amplopnya, pisahkan juga mana yang cerpen, anekdot, pantun, puisi atau yang lain.” Kata YK pada Bayung di depan studio setelah mengambil setumpuk kiriman surat yang belum ia buka, ada seratus lembar lebih.
Sementara itu Bayung terperangah. “Ternyata banyak sekali sastrawan di kota ini.”
“Ka, tulisan milik Senja juga kamu ambil dari tumpukan ini?” Tanya Bayung pada YK sebelum masuk ke studio.
“Iya, itu punya Senja juga ada di tumpukan yang di sana, kalau mau lihat-lihat, ambil saja.” YK menunjuk ke atas meja yang juga banyak sekali surat kiriman pendengar. “Aku Tinggal dulu ya.” Katanya masuk ke dalam studio siaran.
YK sudah duduk di singgasananya, memakai alat pendengar di telinga, mendekatkan mikrofon, dan mulai berbicara. Ia sudah sangat piawai menyiarkan radio, bagaimana tidak? YK sudah melakukannya sejak duduk di bangku SMA. Itu bukan hanya sekedar pekerjaan baginya, membacakan karya tulis orang lain untuk didengar orang satu kota adalah kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan. Tak jarang ia menyalin tulisan milik orang-orang karena ia merasakan maknanya. Sementara Bayung sedang duduk persis di luar studio sibuk memilah-milah tulisan berdasarkan jenisnya. Terdapat kaca besar hampir memenuhi dinding yang memisahkan ruang studio dan ruang berkas tempat Bayung duduk, sehingga ia bisa melihat YK dengan jelas tanpa mendengar suaranya karena terdapat peredam suara di dalam studio. Bayung terus membuka satu per satu tumpukan surat-surat yang sudah disiapkan oleh YK. Membaca perlahan isinya kemudian memisahkan berdasarkan jenis karya tulisnya. Pikirannya terus teringat dengan nama pena Senja. Dengan sangat hati-hati ia membaca nama pengirim dan alamatnya, ia benar-benar ingin tahu siapa Senja, padahal baru sekali saja ia membaca tulisannya. “Barangkali saja, ini.” Ia begitu berharap setelah tumpukannya tinggal beberapa lembar saja. Bayung tak sabar melihat isinya, ia menyobek amplop yang membungkus isinya dengan buru-buru, lalu membaca isinya di bawah sinar lampu berwarna kuning redup. “Yah! Ternyata anekdot.” Bayung kecewa, ia berharap surat itu berisi puisi yang membuatnya semakin penasaran tentang siapa Senja sebenarnya. Matanya melihat tumpukan surat di atas meja yang lain, ia meletakkan surat-surat yang ada di tangannya dan segera beranjak dari tempat duduknya, melihat-lihat lagi surat-surat yang sudah dijepit rapi dengan penjepit kertas, sepertinya sudah dipisahkan dan diurutkan berdasarkan waktu kirimnya.
Perihal rindu
Begitu lama tak singgah di benakku
Tak banyak yang tertinggal
Dan tak banyak yang kubawa
Perihal rindu
Begitu sepi tak mengoyak perasaanku
Tak ada siapa pun di dalamnya
Dan tak ada di mana pun tempatnya
Perihal rindu
Begitu lapuk tak pernah kusapa
Tak sedikit yang terlupakan
Dan tak banyak yang kurasakan
Perihal rindu
Begitu tenang hati tanpa hadirmu
Tak banyak luka yang menggores
Dan tak banyak air mata menderai
Perihal rindu
Begitu takut atas kehadiranmu
Tak banyak yang bisa kuberi
Dan tak ada yang pernah kuterima
Terima kasih
Aku tak pernah berteman denganmu
Rindu
Rindu/Oleh: Senja
Benar saja, lembaran pertama yang ia baca adalah puisi milik Senja. Pemilihan diksinya tidak terlalu berat, tetapi maknanya mendalam. Bayung terus membacanya berulang-ulang. Ia membuka lembaran demi lembaran, semua berisi puisi karya Senja. Ia merasa bodoh sekarang, merasa lebih rendah dan tidak ada apa-apanya. “Orang ini lebih piawai dariku. Puisinya sebanyak ini.” Katanya dalam hati. Bayung segera mencari amplop milik senja yang sudah ia buang ke lantai bersama bercampur dengan amplop-amplop yang lain, ia ingin melihat nama dan alamat pengirim. Ia terus mencari tumpukan amplop yang sudah ia buka, Wiyono, Iwan, Retno, Amaru, Ratih, Wahyu, Nuy, Dewi. Tak satu pun bernama Senja, ia sudah mengeja beberapa kali nama pengirim di amplop-amplop itu. “Yah. Senja hanya sebuah nama pena ternyata.” Ia kecewa tak segera menyimpannya pada saat membuka kiriman anekdot milik Senja sebelumnya. Perasaannya sedikit menyesal, walau begitu Bayung segera merapikan meja dan lantai yang berserakan amplop, ia membaca sekali lagi puisi milik Senja, beberapa puisi ia baca dua kali sebelum YK selesai siaran dan memergokinya belum selesai melakukan pekerjaannya. Bukan jatuh cinta pada pandangan pertama, tetapi jatuh cinta pada syair pertama.
YK baru selesai setelah beberapa menit Bayung duduk manis menunggu, ia melepaskan alat pendengar lalu mematikan peralatan siaran juga lampu ruangan. “Sudah Yung.” Katanya setelah menutup pintu studio dan mematikan lampu.
“Oh sudah. Ini disimpan di mana?” Tanya Bayung menyerahkan hasil pekerjaannya.
“Tumpuk saja di atas meja yang itu, supaya besok temanku gampang mengambilnya.” Kata YK menunjuk sebuah meja yang lain. Mereka berdua berjalan keluar setelah YK menulis catatan untuk dibaca penyiar besok pagi.
“Haus Yung, kita minum es dulu ya. Biar aku yang traktir.” Kata YK setelah sampai di depan gedung siaran, ia berlari menuju tukang es kelapa di depan pagar gedung siaran.
“Siarannya cuma sebentar Ka?” Tanya Bayung menghampiri YK di tukang es.
“Iya, karena temanku izin, jadi jam selanjutnya hanya diputarkan lagu. Tapi nanti ada yang datang untuk melanjutkan. Jadwalnya menyesuaikan sebenarnya, yang penting acara Coretan terus berjalan karena sangat diminati kalangan muda sekarang. Termasuk kamu, kan?” Penjelasan YK cukup dimengerti oleh Bayung.
“Itu, tadi aku lihat banyak tulisan milik Senja, memangnya dia sesering itu mengirimkan tulisan Ka?” Pertanyaan berikutnya sebagai pengalihan. Sebenarnya Bayung bingung bagaimana cara menanyakan soal Senja pada YK. Silakan. Tukang kelapa memberikan dua buah gelas berisi es kelapa muda dengan gula aren, es paling enak nomor dua setelah es cokelat di kedainya. Menurut YK.
“Iya. Dia paling sering mengirikan karya tulis untuk sekarang ini, kadang cerpen, puisi, anekdot. Apa saja dia kirim. Kadang penasaran juga seperti apa sebenarnya orangnya. Seluang apa waktunya untuk berpikir dan menulis.” Jawab YK yang juga penasaran siapa Senja. Bayung hilang harapan karena YK pun benar-benar tak mengenal siapa Senja. Ia pikir YK sedikit banyak tahu tentang Senja sebelumnya. “Setelah minum es, kita pulang ya. Aku harus bergantian dengan Putri menjaga kedai.” Lanjut YK baru saja menenggak es kelapa muda hampir setengah gelasnya dalam sekali tegukan.
“Kamu tidak pernah merasa lelah Ka? Setiap hari pergi kuliah dan bekerja sampai malam. Pantas saja jarang pergi main, ya” Bayung merasa heran karena ia hanya mengisi waktu luangnya untuk belajar, bermain, dan sesekali berorganisasi di kampus.
“Sudah biasa hidup keras dari kecil Yung. Masih SD saja aku sudah bekerja cuci piring di warung, berjualan bakso bakar, gulali, dan pekerjaan apa pun, karena aku tinggal dengan Bibikku. Keluarganya keras, dengan anaknya saja perhitungan, apalagi aku kan yang hanya keponakan. Maka dari itu, ketika SMA aku memilih tinggal sendiri walaupun harus membayar kontrakan setiap bulan. Jadi, yaah! Jalani saja selagi kita masih hidup, kan?” YK menceritakan tentang kehidupannya yang kurang beruntung sedari belia. Berbeda dengan Bayung yang lahir sebagai anak semata wayang dari orang tua berkecukupan. Ayahnya seorang pengusaha dalam bidang tekstil yang cukup besar dan terkenal produknya, ada beberapa cabang perusahaannya tersebar di kota Semarang, sementara ibunya seorang guru yang mengajar SMA di salah satu sekolah negeri.
“Aku sangat beruntung dibanding YK” Gumam Bayung dalam hati iba mendengar cerita YK meskipun sudah beberapa kali ia dengar.
“Tapi, kamu masih aktif menjadi relawan Ka? Yang mengumpulkan donasi untuk yayasan, panti atau bencana alam?” Tanya Bayung lagi. Karena setahu dia, YK juga aktif sebagai relawan yang mengirim donasi berupa uang, makanan, dan pakaian layak pakai kepada beberapa yayasan panti asuhan, panti jompo dan lain-lain atau terjun langsung di lapangan atau lokasi bencana alam.
“Masih, aku masih aktif di komunitas Semarang Peduli. Ayo sekali-kali ikut denganku. Agar kamu bisa merasakan bagaimana hidup serba kekurangan dan kesulitan. Aktif organisasi di luar kampus akan lebih banyak membuka pikiran kita tentang kehidupan luas, kok. Tidak ada ruginya.” Jawab YK menyindir Bayung, juga memberi masukan agar Bayung tidak hanya aktif kegiatan di dalam kampus saja. “Oh iya, sekarang ada yayasan di daerah Bandungan yang baru kita datangi dua kali. Kebetulan aku yang datang ke sana. Mereka butuh sekali biaya untuk pengobatan dan kebutuhan sehari-hari karena yayasan itu berdiri secara mandiri. Kapan-kapan kau kuajak ke sana ya, Yung.”
“Boleh, jika ada waktu luang.” Jawab Bayung setengah hati karena belum pernah menjadi relawan sebelumnya.
“Ya sudah, ayo kita pulang. Putri harus istirahat. Dia kan juga pergi sekolah besok.” Kata YK meletakkan gelas es-nya yang sudah kosong, merogoh kantung celana dan mengeluarkan uang, memilah-milah lembaran untuk membayar es mereka dengan uang pas.
“Makasih ya Ka, sudah di traktir.” Kata Bayung tidak enak hati.
“Yah elah… kamu lebih sering mentraktirku, kan.” YK membandingkan. Bayung segera berlari mengambil sepeda motornya. YK menunggu di depan tukang es kelapa. Mereka pun segera pulang.
Sampai di depan pagar rumahnya setelah mengantar YK pulang, Bayung membuka perlahan gerbang rumahnya yang sepanjang dua meter terbuat dari baja ringan dengan ukiran abstrak pada daun pintu pagar. Ia segera menuntun sepeda motornya masuk ke dalam garasi, menutup kembali pagar dan menguncinya lalu mengendap-endap masuk ke dalam rumah. “Assalamu’alaikum.” Bayung mengucap salam dengan suara pelan dari balik pintu ruang tamu, berjalan menuju ruang tengah untuk mencari kedua orang tuanya yang biasanya sedang menonton TV pada jam itu. Benar saja. Setelah menemukan ayah dan ibunya sedang bersantai, ia segera mengulurkan tangannya untuk mencium tangan kedua orang tuanya.
“Sudah makan Yung? Itu masih ada nasi dan lauk di dapur.” Kata ibunya lembut penuh kasih sayang kepada anak semata wayangnya.
“Iya buk.” Dengan santun, Bayung segera pergi ke dapur, mengambil piring, sendok, membuka tudung saji di atas meja makan lumayan besar, mengambil nasi setengah penuh dari piringnya dan lauk yang ia inginkan karena masih ada beberapa lauk di atas meja di antaranya dua potong ayam goreng, beberapa potong ikan, tahu, tempe dan sayur. “Nikmatnya hidupku, YK pasti sedang memikirkan akan makan apa mereka malam ini.” Gumamnya dalam hati seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Setelah selesai makan, Bayung masuk ke kamarnya di lantai dua rumahnya, membuka kembali buku-bukunya dan mengerjakan tugas. “Sepertinya, aku harus mencoba menjadi relawan. Benar kata YK, untuk membuka pikiran tentang kehidupan yang lebih luas lagi.” Ia masih belum tenang memikirkan tentang kehidupan YK, dan orang-orang kurang beruntung yang YK ceritakan. Suara TV berhenti, kedua orang tuanya sudah pergi tidur, sudah pukul dua puluh satu lebih seperempat. Bayung juga mematikan lampu kamarnya, menyandarkan seluruh tubuhnya di atas kasur yang empuk, menatap ke langit-langit kamarnya. “Terima kasih Tuhan, atas apa yang telah aku dapatkan selama hidup. Terima kasih telah memilihkan aku keluarga yang begitu sempurna.” Katanya sebelum memejamkan mata untuk beristirahat.

